Thursday, December 1, 2011

A Letter For You


Berangkat dari sebuah kata-kata yang entah berasal darimana, aku mulai memberanikan mengoyangkan jemari di atas kanvas keyboard berwarna hitam dengan layar 10,1 inchi berwarna ungu menulis sebuah tulisan yang mungkin sedikit bermakna.

Penyesalan emang selalu ada di akhir, ya itu yang sekarang sedang aku rasain. Marah-marah ga jelas sama dia, nangis ga jelas di depan dia, sampai sempat tidak menganggap dia ada di dunia ini. Bahkan sempat Cuek dan tidak peduli akan keberadaan dia waktu itu, padahal aku tau kalau dia sedang butuh seorang teman, sedang butuh seorang kakak. Sedang butuh seseorang untuk membuatnya kuat. Membuatnya kembali meyakinkan dirinya mampu bertahan dalam kondisi tertekan. Seandainya waktu itu bisa terulang lagi, mungkin aku akan berubah untuk menjadi yang terbaik tanpa memikirkan diri sendiri yang ingin bebas dari ikatan gelar kembar. Seandainya aku tak pernah memikirkan ingin hidup menjadi anak yang terlahir normal tanpa mempunyai kembar, mungkin aku bisa menjadi seorang kakak yang kini dia sayang dania rindukan, kakak yang dia bisa bersandar ketika mempunyai masalah. Aku hanya berharap waktu itu bisa di putar. Tapi sayang, waktu  itu terus maju dan tak pernah berputarr kembali. Dan aku tahu sikapku tak mungkin di maafkan oleh hati kecilnya. Kebenciannya terhadap sikapku ketika itu sudah membatu seperti sikapnya padaku sekarang. Meski aku terus berusaha untuk merubahnya. Meski aku berusaha untuk meminta maaf padanya dengan cara apapun. Aku tak akan mendapatkan kasih sayangnya seperti dulu lagi.


Air mata ini ingin terus mengalir bila mengingat masa kecil kami yang begitu menggembirakan. Sambil berpelukan dan menangis kami berjanji untuk selalu bersama meski dalam keadaan sesulit apapun. Menangis dan berjanji tidak akan membiarkan salah satu dari kami merasakan kesendirian. Menangis dan berpelukan lalu berjanji untuk selalu bersama sampai ajal menjemput. Tapi pada akhirnya, aku sendiri yang mengingkari janji kami karena keegoisanku. Karena kejahatanku, aku membiarkan ia merasakan pedih sendirian dan berjuang untuk membangkitkan semangat hidupnya sendirian.. aku baru sadar bahwaselama ini bukan dia yang jahat karena selalu membentakku ketika memasuki kamarnya, memarahiku karena kesalahan sepele yang ku perbuat. Membanting pintu ketika aku mulai memperingtinya. Kesalahan yang ku lakukan padanya waktu itu lebih jahat dari apa yang ia lakukan padaku. Benar apa yang selalu ia katakan padaku. Aku ini hanya sok tau. Sok tahu dan peduli pada dirinya padahal tidak tahu sama sekali. Satu kata yang kurangkai untuk kejahatanku adalah “KEMBAR MACAM APA AKU INI” sama sekali tidak peduli.
Putri Adilah yang manis, aku sebagai kembaranmu meminta maaf telah memperlakukan dirimu dengan tidak baik. Tolong jangan ampuni kesalahan yang telah aku perbuat. Sungguh itu merupakan perbuatan yang sangat tidak pantas. Maaf atas semua sikapku yang selalu membuatmu kesal. Sejujurnya, kau hanya ingin memperbaiki kesalahanku yang telah lalu. Berharap kau mau menerimaku lagi. Menerimaku dihatimu dan kita tepati janji kita.
         Putri Adilah yang sangat kucintai.aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Jongmal bogoshipo.. aku selalu berharap kau ada di sampingku saat ini. Aku tak mampu hidu sendiri tanpamu. Hidup ini terlalu berat untukku tanpa kehadiranmu. Aku membutuhkan dirimu. Jongmal bogoshipo. Mianhae jongmal mianhae dongseng~a .. aku benar-benar menyesal tidak pernah memperlakukanmu dengan baik. Mianhae dongseng~a ..

 
at Jogja koala and me ^^

No comments:

Post a Comment